Sabtu, 18 Desember 2010

Lumut Kerak (LICHENES)

DESKRIPSI UMUM 
Lichenes (lumut kerak) merupakan gabungan antara fungi dan alga sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan. Lumut ini hidup secara epifit pada pohon-pohonan, di atas tanah terutama di daerah sekitar kutub utara, di atas batu cadas, di tepi pantai atau gunung-gunung yang tinggi. Tumbuhan ini tergolong tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah. Tumbuhan ini bersifat endolitik karena dapat masuk pada bagian pinggir batu.
Pertumbuhan Lichenes sangat lambat dan kondisi yang cenderung mempercepat laju pertumbuhannya juga harus sesuai dengan pertumbuhan dari alga dan fungi yang nantinya akan terjadi simbiosis mutualisme. Dalam hidupnya Lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan terhadap kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Lichenes yang hidup pada batuan dapat menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika turun hujan maka dapat hidup kembali. Tumbuhan ini memiliki warna yang bervariasi seperti putih, hijau keabu-abuan, kuning, oranye, coklat, merah dan hitam.
Lichenes dapat tumbuh baik pada kondisi-kondisi lingkungan yang sangat ekstrim dari gurun pasir sampai Antartika yang mempunyai temperatur di bawah 0 derejat celcius. Perbedaan geografis menghasilkan banyak sekali variasi dari tumbuhan tersebut. Lichenes terkenal dari kepekaannya akan kondisi alam tempat hidupnya, apabila terdapat gas polusi maka Lichenes tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan semestinya.

 Cladonia sp


Jumat, 17 Desember 2010

Aek Nauli Parapat

PENDAHULUAN
Menurut Undang-undang No. 41 tentang Kehutanan tahun 1999, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) merupakan  wujud pemenuhan kawasan hutan sebagai wahana penelitian dan pengembangan IPTEK, termasuk pendidikan dan pelatihan, religi dan budaya, untuk dapat berkembang secara dinamis.  Dari 30 KHDTK di Indonesia yang dikelola oleh Badan Litbang Kehutanan (Soemsudin et al., 2006),  salah satunya adalah KHDTK Aek Nauli.  KHDTK Aek Nauli bermula dari hutan lindung yang ditetapkan sebagai KHDTK melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan  No. 39/Menhut-II/2005, tanggal 7 Pebruari 2005 dengan luasan sekitar 1.900 ha.  
Secara geografis KHDTK Aek Nauli  terletak diantara 2˚ 41’ – 2˚ 44’ LU dan 98˚ 57’ – 98˚ 58’ BT dan secara administratif termasuk pada Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun.  Kawasan ini merupakan daerah pegunungan pada ketinggian sekitar 1100 – 1250 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 3 – 65 %.   Curah hujan bulanan rata-rata sebesar 206,5 mm dan curah hujan tahunan rata-rata sebesar 2452 mm dengan jumlah hari hujan sekitar 151 hari/tahun.   Suhu maksimum bulanan berkisar antara 21,1 – 25  ˚C dengan kisaran suhu minimum antara 15,8 – 17,8 ˚C.  Kelembaban relatif maksimum dan minimum bulanan rata-rata berkisar antara 67,5% - 85,6% dan 49,6% - 73,9% (Butarbutar dan Harbagung, 1996). 
KHDTK Aek Nauli telah berfungsi sebagai bagian Daerah Tangkapan Air (DTA) bagi Danau Toba, habitat beragam jenis tumbuhan dan satwaliar dilindungi, dan kawasan ekowisata.  Sebagian besar hutan KHDTK Aek Nauli merupakan hutan pinus dan hutan sekunder yang ditumbuhi beragam jenis tumbuhan, seperti Eucaliptus deglupta, kemenyan (Styrax sp.), meranti (Shorea sp), simartolu (Schima wallichii), medang (Litsea sp.), dan hoteng (Quercus sp.).  Beragam jenis mamalia yang teridentifikasi diantaranya monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (M. nemestrina), siamang (Hylobates syndactylus), kijang (Muntiacus muntjak), babi (Sus scrofa), dan rusa (Cervus unicolor).  Adapun keberadaan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan beruang madu (Helarchos malayanus) perlu kajian lebih lanjut. Jenis-jenis burung yang banyak dijumpai adalah kucica hutan (Copsychus malabaricus), tekukur (Streptopelia chinensis), kutilang (Pynonotus aurigaster), burung semak dan jenis lainnya.   
Melihat fungsi dan peruntukan KHDTK Aek Nauli sebagai wahana Litbang  Kehutanan tentunya memberikan konsekuensi bahwa segala potensi di dalamnya perlu dikaji secara lengkap, terutama potensi keanekaragaman hayati (tumbuhan dan satwaliar).   Informasi ini sangat penting sebagai dasar dalam menyusun model pengelolaan  dan pemanfaatan KHDTK Aek Nauli yang lebih konprehensif.   Begitu pula,  dalam pemanfaatan hutan penelitian Aek Nauli sebagai lokasi ekowisata yang edukatif.
sumber:  BALAI KEHUTANAN AEK NAULI

Ket: Supri, Bahri, dan Boy PGB sedang Berpose di depan Arboretum Aek Nauli Prapat
Ket: Nepenthes tobaica, salah satu flora yang terdapat di Aek Nauli Prapat



Ket: Marzuki sedang Melintasi Pintu Gerbang Aek Nauli Prapat





Ket: Panorama Hutan Aek Nauli yang Langsung Mengarah ke Danau Toba

Rabu, 15 Desember 2010

Tanaman Langka Indonesia

1. Balam Suntai (Palaquium walsurifolium)
2. Bayur (Pterospermum sp)
3. Bulian, Ulin Eusideroxylon zwageri
4. Cendana (Santalum album)
5. Damar, Kopal Keruling (Agathis labillardieri)
6. Durian (Durio Zibethinus)
7. Enau (Arenga pinnata)
8. Eucalyptus (Eucalyptus sp)
9. Hangkang (Palaquium leiocarpum)
10. Hongi / saya (Myristica argentea)
11. Imba (Azadirachta indica)
12. Jambu Monyet (Agathis Lalillardieri)
13. Jelutung (Dyera sp)
14. Kapur Barus (Dryobalanops camphora)
15. Katiau (Ganna metloyauma)
16. Kayu Bawang (Scorodocarpus borneensis)
17. Kayu Hitam (Diospyros sp)
18. Kayu Kuning (Cudrania sp)
19. Kayu Manis (Cinnamomun burmannii)
20. Kayu Sepang (Caesalpina sappan)
21. Kemenyan (Styra sp)
22. Kemiri ( Dipterocarpus sp)
23. Keruling (Dipterocarpus sp)
24. Ketimunan (Timonius sericcus)
25. Kulit Lawang (Cinnamomun cullilawan)
26. Ipil (Instsia amboinensis)
27. Malam Merah (Palaquium gutta)
28. Massoi (Cryptocaria massoi)
29. Mata Buta / Garu (Excoecaria agallocha)
30. Mata Kucing / Damar (Shorea sp)
31. Purnamasada (Cordia subcordata)
32. Sawo Kecik (Manilkata kauki)
33. Sonolkeling (Dalbergia latifolia)
34. Suren (Toona sureni)
35. Taker, Benuang (Duabanga moluccana)
36. Tembesu (Fagraea fragrans)

Selasa, 14 Desember 2010

Kanker Hati (hepatoma)

Kanker Hati (hepatoma)

Penyebab kanker hati primer (hepatoma) belum diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan bersifat turunan pada anak-anak, dan pada orang dewasa kernungkinanannya karena pengaruh lingkungan yang bersifat karsinogen. Selain itu ada beberapa faktor risiko yang diduga sebagai pemacu hepatoma, antara lain :
- penderita sirosis hati clan penyakit hat, degenaratif,
- Vino hepatitis B (hepatitis khnonis),
- Perninum alkohol,
- Aflatoksin (makanan yang ditumbubi jamur Aspergillus flaws yang menghasilkan arlatoksin),
- Infeksi cacing hati (Clonorchis sinensis).
Berikut gejala atau simtom yang ditImbulkan kanker hati.
- Lemah, tidak nafsu makan, kehilangan berat badan, dan demam. Adanya massa sebelah kanan atas perut.
- Kulit berwarna kuning dan pembentukan cairan di rongga perut. Adanya suara abnormal seperti gesekan sewaktu periksa dengan stetoskop (apabila hati telah membesar).
- Buang air besar berwarna kehitam-hitaman, urin berwarna seperti teh.
- Tangan dan kaki membengkak.
Biasanya, kanker hati agak susah diketahui pada tingkat permulaan (mulai terdiagnosis pada tingkat lanjut) sehingga sulit diatasi walaupun melalui operasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala pada orang yang mempunyai risiko tinggi.
Kanker hati merupakan jenis kanker yang sangat sulit diobati, Oleh karena lakukan langkah pencegahan sedini mungkin. Berikut beberapa langkah pencegahan.
- Menghindari minuman beralkohol.
- Menghindari makanan becamur.
- melakukan vaksinasi hepatitis, terutama hepatitis B.
Daftar Pustaka
Atasi Kanker dengan Tanaman Obat Oleh Hembing Wijayakusuma