Senin, 11 April 2011

INGGU

( Ruta angustifoli (L) Pers )
Tanaman Obat Inggu
SINONIM :
Nama Latin        : Ruta graveolens Linn., Ruta chalepensis L. var angustifiola.
Nama Daerah    : minggu, godong minggu, aruda atau anruda busu.

KLASIFIKASI :
Bangsa        : Rutales
Suku            : Rutaceae
Marga          : Ruta
Jenis            : Ruta angustifolia (L) Pers.

Di Jawa tumbuhan yang dapat menyebabkan iritasi lokal ini sering ditanam di kebun pada daerah pegunungan sampai ketinggian 1000 m dpl. Terna, tumbuh tegak, tinggi mencapai 1,5 m, batang berkayu, silindris, ramping, percabangan banyak, lemah, seluruh bagian bila diremas berbau tak sedap.
Sifat dan Khasiat
Herba berasa pedas, agak pahit, dingin, berkhasiat sebagai pereda demam (antiperik), penghilang nyeri (analgesik), anti radang, penawar racun (antitoksik), peluruh kentut (karminatif), membuyarkan bekuan darah, pereda kejang (antikonsulvan), peluruh haid (emenagog), abortivum, pembersih darah, stimulan pada saraf dan kandungan (uterus), antelmintik. Minyak asiri mengandung oleum rutae, rasanya pahit, pedas dan memualkan, larut dalam air, tetapi tidak larut dalam alkohol dan eter. Berkhasiat sebagai abortivum dan rubifasien.
kandungan Kimia
Minyak asiri mengandung metil-noniketone sampai 90%, ketone pinena, I-limonena, ceneol, asam rutinat, kokusaginin, edulinine, rhamno glikosid, quersetin flavenol, xanthotoxine, sedikit tanin. Minyak asiri digunakan juga pada industri kosmetika, seperti pembuatan sabun krim dan wangi-wangian.
Bagian yang digunakan
seluruh herba dapat digunakan baik dalam bentuk segar maupun yang telah dikeringkan. Pengeringan dilakukan dengan cara dijemur memakai naungan. Herba ini rasanya memualkan.
Indikasi
Herba ini dapat mengatasi: demam, influenza, batuk, radang paru, kejang pada anak, ayan (epilepsi), kecikutan (singultus, hiccup), kolik, histeri (hysteria), menghilangkan nyeri seperti nyeri ulu hati, dada dan hernia, hepatitis, haid tidak teratur, tidak datang haid (amenorrhoea), ekzema pada anak, bisul, radang kulit bernanah, memar akibat terbentur benda keras, gigitan ular berbisa dan serangga, keracunan obat atau keracunan lain yang mematikan, radang vena (flebitis), pelebaran pembuluh darah balik (vena varikosa) dan cacingan.
Cara Pemakaian
Herba sebanyak 10-15 g direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, herba segar digiling atau diremas-remas, lalu dibubuhkan pada bagian tubuh yang sakit seperti pengobatan pada sakit kepala, kejang pada anak, ketombe, gudig, sakit telinga, sakit telinga, sakit gigi, bisul, memar dan rematik. Oleh karena herba ini rasanya pedas maka pemakaian lokal yang terlalu banyak dapat menyebabkan warna kulit menjadi merah, membengkak dan kadang timbul lepuh (bulla). Minyak asirinya juga dapat digunakan sebagai minyak gisik untuk menghilangkan rasa nyeri pada bagian tubuh yang sakit.
Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
Sejumlah percobaan pada binatang menunjukkan bahwa zat berkhasiat furoquinoline alkaloid skimmianine dapat menyebabkan keguguran. Hal ini diduga akibat efek stimulasi langsung pada otot kandungan (uterus) Dari penelitian perkembangan folikel ovarium mencit pada periode pasca-lahir yang diberikan suntikan ekstrak daun inggu dengan dosis 8 mg/100 g bb, ternyata pada ovarium mencit berumur 21, 35 dan 49 hari terjadi penurunan jumlah folikel primer, sekunder dan de Graaf, sedang jumlah folikel atresia meningkat. Hal ini diduga karena inggu bersifat estrogenik (Maria Esti Taruni, Fakultas Biologi UGM, 1993).
Pemberian ekstrak daun inggu subkutan pada mencit dengan kehamilan 4-5 hari dengan dosis 0,08 mg/g bb, pada uterus tampak peningkatan vaskularisasi, hemoragi, hiperplasia endometrium, perubahan glandula uterina, edema lamina properia endometrium, tidak terbentuknya sel raksasa, dan tebal miometrium bertambah. Keadaan tersebut hampir sama dengan pemberian estradiol benzoas (Flora Rumiati, Fakultas Biologi UGM, 1993).
Contoh Pemakaian
Demam
Sebanyak 1/2 genggam herba inggu segar dicuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai air rebusannya tersisa 3/4 bagian. Setelah dingin lalu disaring, dapat ditambah madu sebelum diminum. Sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas.
Kejang pada anak
Sebanyak 15-20 g daun inggu segar dicuci bersih lalu potong-potong seperlunya. Rebus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 2 kali minum, yaitu pagi dan sore hari.
Sebanyak 10 lembar daun inggu dicuci bersih dan digiling sampai halus. Tambahkan cuka seperlunya, remas sampai merata. Setelah selesai, adonan tadi dipakai untuk mengompres ubun-ubun anak yang sedang kejang.
Nyeri ulu hati
Sebanyak 15g herba inggu segar dicuci dan direbus dengan 3 gelas dicuci dan direbus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, lalu diminum sekaligus.
Merangsang haid
Sebanyak 28 g herba inggu kering direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, siap untuk diminum. Setiap kali minum cukup 1/2 gelas.
Kecikukan
Sebanyak 3/5 genggam daun inggu dicuci, lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai airnya menajdi 3/4 bagian. setelah dingin disaring, siap untuk diminum. Sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas. Setiap kali minum dapat ditambah made secukupnya.
Sakit telinga
Tiga genggam daun inggu segar dicuci bersih lalu dibilas dengan air matang. Tumbuk sampai halus, kemudian peras dengan sepotong kain. Air perasanya diteteskan pada telinga yang sakit.
Sakit kepala
Satu genggam daun inggu segar dicuci bersih lalu ditumbuk sampai lumat. Hasilnya dibagi dua sama banyak, tempelkan pada kedua pelipis.
Saki gigi
Tiga lembar daun inggu sebar dicuci bersih lalu dibilas dengan air matang. Lumatkan dengan jari sampai lunak. Masukkan ke salam lubang gigi lalu ditutup dengan kapas.
Ketombe, Gudig
Segenggam daun segar, sepotong kunyit dan 1 sendok teh beras dicuci bersih lalu digiling halus sampai seperti bubur. Gosokkan pada kulit kepala atau kulit yang terkena gudig.
Bisul
Segenggan daun inggu dicuci bersih lalu digiling halus. Hasil gilingannya diperas dan air perasannya ini dicampur dengan bubuk indigo. Gunakan untuk memoles bisul.
Hepatitis
Daun inggu segar sebanyak 1/3 genggam dicuci bersih, lalu tambahkan 3 gelas air bersih kemudian direbus sampai airnya tersisa separo. Setelah dingin disaring. Tambahkan air gula batu seperlunya bila hendak diminum. Sehari diminum 2 kali, masing-masing cukup 3/4 gelas
Catatan
Perempuan hamil dilarang menggunakan tumbuhan ini.
Dosis yang berlebihan menimbulkan tanda-tanda acro-narcotic poison dan menyebabkan keguguran pada perempuan hamil.
Beberapa zat aktif pada herba ini dapat menimbulkan hipersensitif terhadap cahaya bagi pemakainya (fototoksik). Setelah menggunakan herba ini, hindari terkena cahaya matahari langsung, untuk mencegah timbulnya kemerahan pada kulit, pembengkakan, sampai luka bakar. Timbulnya dermatitis dapat terjadi pada beberapa pengguna yang sensitif.
Sumber:
Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (Dr. Setiawan Dalimartha)

Jumat, 18 Maret 2011

Kunci Identifikasi Jenis-Jenis Lumut (Lumut Tanduk dan Lumut Hati)


Kunci Determinasi Sederhana
1a.  Gametofit berupa talus, tidak mempunyai batang dan daun ........................... 2
1b. Gametofit mempunyai batang dan daun .......................................................... 3
2a. Sel-sel hanya mengandung 1 atau 2 kloroplas besar per sel, sporofit dengan 
       kapsul silindris memanjang seperti tanduk..................................................... 4
       (kelompok lumut tanduk)
2b.  Sel-sel mengandung banyak sel kecil, sporofit dengan kapsul bulat atau    
       lonjong ...................................................... 5 (kelompok lumut hati bertalus)
3a.  Daun tersusun 2 atau 3 baris, tidak pernah ada tulang daun; sporofit berumur                  
       pendek; seta memanjang setelah kapsul masak, lunak, putih agak transparan;                
       kapsul bulat atau lonjong, membuka dengan cara membelah secara      
       longitudinal .............................................. 11(kelompok lumut hati berdaun)
3b.  Daun umumnya tersusun spiral, ada atau tanpa tulang daun; sporofit berumur
       panjang; seta memanjang sebelum kapsul masak, keras dan kaku, biasanya     
       coklat; kapsul bulat sampai silindris, membuka dengan operculum ...............
       ................................................................................... (kelompok lumut sejati)
4a.  Talus roset, spora hitam ............................................................  Anthoceros  sp
4b.  Talus menyirip, spora kuning coklat ........................................  Phaeoceros sp
5a.  Talus sederhana, terdiri dari satu lapis sel kecuali dibagian midrib atau terdiri
        beberapa lapis sel tetapi tersusun oleh sel-sel homogen (semua sel mengandung, tidak ada sisik-sisik ventral.............6 (Kelompok Metzgeriales)
5b. Talus kompleks, selalu terdiri dari beberapa lapis sel, talus terdiferensiasi   menjadi bagian dengan sel-sel berkloroplas dan bagian dengan sel-sel tanpa kloroplas, ada sisik-sisik ventral .......................7 (Kelompok Marchantiales)
6a. Bercabang menggarpu, lebar talus kurang dari 3 mm, tepi talus berambut- rambut panjang, anteredium dan arkegoniumdihasilkan pada permukaan ventral ..............................................................................  Metzgeria decipiens
6b. Bercabang tidak beraturan, lebar talus lebih dari 3 mm, tepi talus berambut-rambut pendek seperti papil, anteredium dan arkegonium dihasilkan pada permukaan dorsal.................................................................  Pallavicinia lyelii
7a. Permukaan talus berstruktur seperti beledru dan tidak berpori, tidak menghasilkan gemmae cup, reseptakel betina bertangkai ............................................................................................ Dumortiera hirsuta
7b. Permukaan talus licin dan berpori-pori, menghasilkan gemmae cup, reseptakel jantan maupun betina bertangkai .................................................................... 8
8a. Reseptakel betina seperti payung dengan cuping seperti jejari, ujungnya berlekuk, reseptakel jantan seperti payung dengan tepi berlekuk ................... 9
8b. Reseptakel betina cekung seperti mangkuk sebelah terbalik, tepi bercuping dan setiap cuping berbagi dalam, reseptakel jantan seperti bintang ............. 10
9a. Jumlah cuping reseptakel betina 7-11 .........................  Marchantia emarginata
9b. Jumlah cuping reseptakel betina 5-7 ...........................  Marchantia miqueliana
10a. Jumlah cuping reseptakel jantan maupun betina konstan yaitu 4 cuping ....................................................................................... Marchantia geminate
10b. Jumlah cuping reseptakel jantan maupun betina bervariasi yaitu 4-6 cuping ............................................................................................ Marchantia reubii
11a. Daun berbagi sangat dalam lebih dari ¾ panjang daun, membentuk 3 cuping seperti rambut yang lebarnya hanya 1 sel ........................ Kurzia gonyotricha
11b. Daun tidak berbagi sangat dalam, membentuk 3 cuping seperti rambut yang lebarnya hanya 1 sel .................................................................................... 12
12a. Daun simpel, tidak berbagi atas cuping besar dan cuping kecil yang melipat membentuk semacam saku atau kantung .................................................... 13
12b. Daun terbagi atas cupung besar dan cuping kecil yang melipat membentuk semacam saku atau kantung ........................................................................ 26
13a. Daun lateral incubous ................................................................................... 14
13b. Daun lateral succubous ................................................................................ 17
14a. Percabangan menggarpu, terdapat percabangan ventral dengan daun-daun tereduksi, bentuk daun ventral berbeda dengan daun lateral, ujung daun bergigi 3 ................................................................................ Bazzania tridens
14b. Percabangan tidak menggarpu, bentuk daun ventral sama dengan daun lateral; ujung daun bercuping dua atau berbagi jadi 4 cuping seperti silia ..................................................................................................................... 15
15a. Batang simpel atau bercabang tidak beraturan, tepi bergigi lebat ............................................................................................... Isotachis armata
15b. Percabangan menyirip, tepi daun rata tidak bergigi lebat ............................ 16
16a. Ujung daun bercuping dua berbentuk segitiga ...........  Martigophora diclados
16b. Ujung daun berbagi berbentuk 4 cuping memanjang seperti silia................................................................................... Lepidozia cladorhiza
17a. Pangkal daun bagian dorsal deccurent ......................................................... 18
17b. Pangkal daun bagian dorsal tidak deccurent ...............................................  22
18a. Daun berhadapan ........................................................ Plagiochillion opposita
18b. Daun berseling ............................................................................................. 19
19a. Tidak ada daun ventral, bentuk daun seperti lidah, tepi dan ujung daun rata, sel-sel berpapil .............................................................  Jungermannia comans
19b. Ada atau tidak ada daun ventral, bentuk daun tidak seperti lidah, tepi daun sampai ke ujung bergigi sel-sel tidak berpapil .............................................. 20
20a. Percabangan menggarpu ............................................ Plagiochilla tjibodensis
20b. Batang simpel atau bercabang tidak beraturan ............................................ 21
21a. Gigi-gigi hanya di tengah sampai ke ujung, dua gigi diujung ukurannya lebih panjang dari lainnya, seperti silia .................................. Plagiochilla sciophila
21b. Gigi-gigi dijumpai di seluruh tepi daun, ukuran gigi-gigi kurang lebih sama, seperti duri-duri ........................................................... Plagiochilla propinqua
22a. Tidak ada daun ventral, helaian daun sangat melengkung, pangkal daun bagian ventral menggulung dan menggembung membentuk kantong bulat telur .................................................................................... Nowellia curvifolia
22b. Ada daun ventral, helaian daun rata, pangkal daun tidak menggulung ........ 23
23a. Bentuk daun persegi empat, daun ventral bersambungan dengan salah satu atau kedua daun lateral di kanan kirinya ...................................................... 24
23b. Bentuk daun bulat telur, daun ventral tidak bersambungan dengan daun lateral ............................................................................................................ 25
24a. Ujung daun dengan dua gigi-gigi yang letaknya berjauhan, daun lateral hampir berhadapan ...................................................... Heteroschypus coalitus
24b. Ujung daun dengan beberapa gigi-gigi kecil (4-10), daun lateral berseling ...................................................................................... Heteroschypus argutus
25a. Ukuran kecil (< 1,5 mm), ujun daun lateral dengan 2 cuping berbentuk segitiga, pada tepi daun dihasilkan gemmae, daun lateral bercuping 2 linear ............................................................................................. Chiloscypus minor
25b. Ukuran besar (dapat mencapai 5 mm), ujung daun lateral dengan 2 gigi runcing seperti silia tidak dihasilkan gemmae pada tepi daun, daun lateral membulatujungnya, bergigi 2 ........................................ Lophocolea bidentata
26a. Tidak ada daun ventral ................................................................................. 26
26b. Ada daun ventral .......................................................................................... 27
27a. Hijau muda keabu-abuan, cuping kecil segiempat, rhizoid berberkas muncul dari cuping daun kecil ............................................................ Radula javanica
27b. Hijau muda dan merah, cuping kecil segitiga, rhizoid tersebar pada batang ........................................................................................... Pleurozia gigantean
28a. Daun ventral berbagi dua cuping .................................................................. 29
28b. Daun ventral tidak berbagi ........................................................................... 30
29a. Cuping besar, daun membulat sampai bulat telurdengan ujung apiculate, cuping kecil membentuk kantong air yang hampir paralel dengan batang melekat dengan daun lateral melalui 1-2 sel saja, dinding sel bagian luar rata ............................................................................................ Frullania apiculata
29b. Cuping besar, daun segitiga sampai bulat telur melebar dengan ujung meruncing, cuping kecil membentuk kantong air yang transversal dengan batang melekat dengan daun lateral malalui lipatan panjang, dinding bagian luar mammilose ..................................................... Harpanolejeunea filicuspis
30a. Sel-sel dibagian tengah helaian daun memanjang ........................................ 31
30b. Sel-sel dibagian tengah helaian daun isodiametrik ...................................... 32
31a. Percabangan teratur menyirip ganda, perianth beralur 8-9 halus tidak bergigi ............................................................................................. Ptycanthus striatus
31b. Percabangan tidak beraturan, perianth beralur 3, bergigi .................................................................................. Thysananthus spatulitipus
32a. Ketika kering daun lateral memeluk batang dengan kuat sehingga tampak seperti cacing ......................................................... Schiffneriolejeunea tumida
32b. Ketika kering daun lateral tidak memeluk batang dengan kuat ................... 33
33a. Daun ventral persegiempat, ujungnya rompang dan bergigi atau rata ................................................................................. Spruceanthus polymorphu
33b. Daun ventral membulat atau seperti ginjal, ujungnya membulat dan rata tidak pernah bergigi ............................................................................................... 34
34a. Hijau pucat hampir putih, tepi daun ventral menggulung dalam ............................................................................... Leucolejeunea xanthocarpa
34b. Hijau kehitaman, tepi daun bagian ventral datar tidak menggulung ............ 35
35a. Ujung daun ventral melengkung kearah luar ................ Lopholejeunea eulopa
35b. Ujung daun ventral datar ............................................ Lopholejeunea wiltensii
Kunci identifikasi Sederhana Suku Lumut Sejati (Mosses)
1a.  Daun tersusun dalam 2 baris ..................................................... Fissidentaceae
1b.  Daun tidak tersusun dalam 2 baris .................................................................. 2
2a.  Daun panjang dan lanset .................................................................................. 3
2b.  Daun tidak panjang dan lanset ........................................................................ 4
3a.  Gigi peristom seperti garpu .......................................................... Dicranaceae
3b.  Tidak seperti diatas ..........................................................................................5
4a.  Daun hijau keputih-putihan, dengan leucosis ........................... Leucobryaceae
4b.  Daun tidak denga leucosis ............................................................................... 6
5a.  Lumut rawa, percabangan gabungan ............................................ Sphagnaceae
5b.  Tidak seperti diatas ......................................................................................... 7
6a.  Tumbuhan keras ........................................................................ Polytrichaceae
6b.  Tidak seperti diatas ......................................................................................... 8
7a. Daun berbentuk roset, sel daun heksagonal dengan dinding tipis ............................................................................................................ Bryaceae
7b.  Daun seperti sikat botol ........................................................... Rhizogoniaceae
8a.  Tepi daun dengan garis pembatas nyata .................................. Plagiomniaceae
8b.  Tidak seperti diatas ......................................................................................... 9
9a.  Tumbuhan menjalar dengan cabang berputar keatas, tepi daun rata ................................................................................................... Orthotricaceae
9b.  Tumbuhan menggantung, dengan dinding sel tipis ..................... Meteoriaceae
10a. Tumbuhan dendroid, sel daun isodiometrik ................................ Neckeraceae
10b. Sel daun segiempat ............................................................. Hypnodendraceae
11a. Daun tersusun dalam 3 baris, baris bagian bawah sangat kecil .............................................................................................. Hypopterygiaceae
11b. Tidak seperti diatas ...................................................................................... 12
12.   Tumbuhan bercabang seperti sayap, daun batang dan daun cabang berbeda ........................................................................................................ Thuidiaceae

Jumat, 11 Maret 2011

RUBRIK KESPRO (KESEHATAN REPRODUKSI)

Penyakit Kista


Penyakit kista merupakan penyakit yang menyerang kaum perempuan. Kista sendiri merupakan benjolan yang berisi cairan yang berada di indung telur. Penyakit ini merupakan penyakit tumor jinak, karena kebanyakan penanganannya tidak melalui operasi besar. Namun berdasarkan tingkatan keganasan, penyakit kista dapat dibagi menjadi dua macam:
1. Kista non-neoplastik, yang sifatnya jinak dan biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan
2. Kista neoplastik, kista ini umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan sifatnya

Menurut Dr. dr. T. Z.Jacoeb, SpOG-KFER, kista tidak hanya dapat tumbuh di ovariom atau indung telur wanita saja, tetapi juga dapat tumbuh di paru-paru, usus dan bahkan di otak. Penyakit kista dapat disebabkan oleh polusi udara dan debu.

Adanya dioksin dari asap pabrik dan pembakaran gas bermotor dapat menurunkan daya tahan tubuh manusia yang kemudia akan membantu tumbuhnya kista. Selain itu dari faktor makanan, lemak berlebih atau lemak yang tidak sehat akan mengakibatkan zat-zat lemak tidak dapat dipecah dalam proses metabolisme sehingga akan meningkatkan hormon testosteron.

Ada 4 macam kista indung telur. Kista fungsional, dermoid, cokelat (endometriosis) dan kista kelenjar (cystadenoma). Sampai saat ini masih belum diketahui bagaimana terjadinya kista. Biasanya tumbuh sangat pelan dan sering terjadi keganasan pada umur lebih 45 tahun. Dari keempat kista ini yang paling banyak dan justru sering mengecil sendiri seiring dengan membaiknya keseimbangan hormonal adalah kista fungsional. Penyakit kista juga dapat dikatakan penyakit degeneratif atau keturunan. Jika orang tua atau nenek anda pernah menderita penyakit kista atau mioma, maka dapat dipastikan anda termasuk salah satu keturunan pembawa sifat penyakit kista.

Namun pembawa sifat bukan berarti penderita penyakit kista, anda dapat mencegah timbulnya penyakit kista dengan gaya hidup sehat. Hindari makanan-makanan berlemak tinggi, rajinlah berolah raga serta konsumsilah makanan dan minuman yang mengandung antioksidan. Karena antioksidan dapat menangkal radikal bebas dari polusi debu dan udara.

Walau pun peynyakit kista termasuk penyakit jinak, tatapi penyakit ini memiliki potensi untuk menjadi penyakit ganas. Dan apabila sudah menjadi seperti itu maka harus ditangani serius. Meskipun toh belummganas, kista jika terplintir akan mengakibatkan rasa sakit yang sangat perih.

Beberapa gejala timbulnya penyakit kista adalah rasa nyeri sewaktu haid, nyeri perut bagian bawah, sering merasa ingin buang air besar atau kecil, dan pada keadaan yang sudah lanjut dapat teraba benjolan pada daerah perut. Dan jika kista pecah, misalnya saat berhubungan seksual, penderita akan merasa nyeri yang bertambah bila melakukan aktivitas fisik berat.

RUBRIK KESPRO (KESEHATAN REPRODUKSI)

Benarkah Ponsel Bisa Merusak Sperma?
Berhati-hatilah kaum pria, apalagi yang tak bisa berlama-lama lepas dari telepon genggam miliknya. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa peralatan komunikasi yang canggih ini bisa merusak sperma. Jika Anda adalah jenis orang yang suka menyimpan telepon seluler (ponsel) di saku celana atau dimasukkan dalam sarung kecil dan digantung di pinggang, maka jumlah sperma Anda bisa berkurang hingga 30%.
Radiasi yang dipancarkan ponsel berpengaruh negatif terhadap produksi sperma dan kesuburan laki-laki. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh peneliti dari Departemen Obstetri dan Ginekologi, Universitas Szeged, Hungaria, yang juga melaporkan hasil penelitiannya dalam konferensi The European Society of Human Reproduction and Embryology di Berlin, Jerman. Dalam penelitiannya, para peneliti tersebut menganalisa sperma dari 221 orang pria dan mengamati perilaku mereka dalam menggunakan ponsel. Para ilmuwan ini menemukan adanya korelasi positif antara penggunaan ponsel, bahkan jika di set dalam posisi standby, dengan berkurangnya kualitas dan kuantitas sperma.

Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan hasil penelitian tersebut. Salah satu keraguannya yaitu para peneliti tampaknya tidak memperhitungkan faktor-faktor lain yang juga bisa mempengaruhi hasil penelitian.

Perlu diketahui, faktor-faktor lain seperti tingkat stres, pengaruh alkohol, jenis pekerjaan, dan kebiasaan merokok para pria yang menjadi obyek penelitian tersebut mempunyai peran yang cukup besar dalam menentukan kualitas dan jumlah sperma.

Masalah infertilitas pada pria memang meningkat dalam sepuluh tahun terakhir, jauh sebelum penggunaan ponsel semakin meluas. Banyak faktor yang berperan dalam masalah tersebut.

Sementara itu, merujuk penelitian lembaga tersebut tentang pengaruh paparan gelombang radio yang dipancarkan ponsel terhadap kesehatan manusia, menunjukkan bahwa hasilnya aman-aman saja. Namun, mengingat saat ini ponsel digunakan secara luas di seluruh dunia, maka riset lanjutan yang lebih mendalam sangat diperlukan.

Bahaya penggunaan ponsel bagi kesehatan manusia memang beberapa kali dikemukakan. Antara lain teori yang menghubungkan antara penggunaan telepon genggam dengan penyakit kanker, termasuk kanker otak, meningioma, neurinoma akustik, acoustic melanoma, dan kanker kelenjar ludah. Namun, sejauh ini tidak ada bukti yang konsisten ditemukan.

Di luar semua itu, ponsel memang berbahaya bagi manusia, terutama jika Anda sibuk memencet nomor telepon genggam atau berbicara lewat telepon saat menyetir. Survei yang dibuat Yayasan Asosiasi Otomobil Amerika untuk Keamanan Lalu Lintas menunjukkan bahwa penggunaan telepon genggam telah menyumbang 1.5% dari 26.145 kali kecelakaan yang terjadi di AS.

Kamis, 10 Maret 2011

RUMPUT MUTIARA

(Hedyotis corymbosa (L.] Lamk.)
Sinonim :
Oldenlandia corymbosa, Linn.
Familia :
Rubiaceae
Uraian :
Rumput tumbuh rindang berserak, agak lemah, tinggi 15 - 50 cm, tumbuh subur pada tanah lembab di sisi jalan, pinggir selokan, mempunyai banyak percabangan. Batang bersegi, daun berhadapan bersilang, tangkal daun pendek/hampir duduk, panjang daun 2 - 5 cm, ujung runcing, tulang daun satu di tengah. Ujung daun mempunyal rambut yang pendek. Bunga ke luar dari ketiak daun, bentuknya seperti payung berwarna putih, berupa bunga majemuk 2-5, tangkai bunga (induk) keras seperti kawat, panjangnya 5 10 mm. Buah built, ujungnya pecah-pecah. Rumput ini mempunyai khasiat sama seperti Hedyotis diffusa Willd. = Rumput Iidah ular = Baihua she she cao.

Nama Lokal :
Rumput siku-siku, bunga telor belungkas (Indonesia); Daun mutiara, rumput mutiara (Jakarta); Katepan, urek-urek polo (Jawa), Pengka (Makasar); Shui xian cao (China).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Tonsilis, Bronkhitis, Gondongan, Pneumonia, Radang usus buntu; Hepatitis, Radang panggul, Infeksi saluran kemih, Bisul, Borok; Kanker: Lymphosarcoma, Ca lambung, Ca cervix, kanker payudara, rectum, fibrosarcoma, dan Ca nasophar;
Pemanfaatan :
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Rasa manis, sedikit pahit, lembut, netral, agak dingin. Menghilangkan panas, anti-radang, diuretik, menyembuhkan bisul (anti carbuncular), menghilangkan panas dan toxin, mengaktifkan circulasi darah. KANDUNGAN KIMIA: Baihua she-she cao mengandung: Hentriacontane, stigmasterol, ursolic acid, oleanolic acid, Beta-sitosterol, sitisterol-D-glucoside, p-coumaric acid, flavonoid glycosides, dan baihuasheshecaosu (kemungkinan analog coumarin).

DELIMA

(Punica granatum L.)
Sinonim :
Malum granatum Rumph.
Familia :
Punicaceae.
Uraian :
Delima berasal dari Timur Tengah, tersebar di daerah subtropik sampai tropik, dari dataran rendah sampai di bawah 1.000 m dpl. Tumbuhan ini menyukai tanah gembur yang tidak terendam air, dengan air tanah yang tidak dalam. Delima sering ditanam di kebun-kebun sebagai tanaman hias, tanaman obat, atau karena buahnya yang dapat dimakan. Berupa perdu atau pohon kecil dengan tinggi 2--5 m. Batang berkayu, ranting bersegi, percabangan banyak, lemah, berduri pada ketiak daunnya, cokelat ketika masih muda, dan hijau kotor setelah tua. Daun tunggal, bertangkai pendek, letaknya berkelompok. Helaian daun bentuknya lonjong sampai lanset, pangkal lancip, ujung tumpul, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan mengkilap, panjang 1--9 cm, lebar 0,5--2,5 cm, warnanya hijau. Bunga tunggal bertangkai pendek, keluar di ujung ranting atau di ketiak daun yang paling atas. Biasanya, terdapat satu sampai lima bunga, warnanya merah, putih, atau ungu. Berbunga sepanjang tahun. Buahnya buah buni, bentuknya bulat dengan diameter 5--12 cm, warna kulitnya beragam, seperti hijau keunguan, putih, cokelat kemerahan, atau ungu kehitaman. Kadang, terdapat bercak-bercak yang agak menonjol berwarna tebih tua. Bijinya banyak, kecil-kecil, bentuknya bulat panjang yang bersegi-segi agak pipih, keras, tersusun tidak beraturan, warnanya merah, merah jambu, atau putih. Dikenal tiga macam delima, yaitu delima putih, delima merah, dan delima ungu. Perbanyakan dengan setek, tunas akar atau cangkok.

Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: glima (Aceh), glimeu mekah (Gayo), dalimo (Batak). Jawa: gangsalan (Jawa), dalima (Sunda), dhalima (Madura). Nusa Tenggara: jeliman (Sasak), talima (Bima), dila dae lok (Roti), lelo kase, rumau (Timor). Maluku: dilimene (Kisar). NAMA ASING Shi liu (C), granaatappel (B), grenadier (P), granatbaum (J), luru (V), thap thim (T), granada (Tag.), pomegranate (I). NAMA SIMPLISIA Granati Cortex (Wit kayu delima), Granati Pericarpium (Wit buah delima).

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Sewaktu panen, buah dikumpulkan. Bijinya dikeluarkan, lalu kulitnya dijemur sampai kering. Sebelum digunakan, dapat disimpan dalam wadah yang tertutup baik. Kulit buah rasanya asam, pahit, sifatnya hangat, astringen, beracun (toksik). Berkhasiat menghentikan perdarahan (hemostatis), peluruh cacing usus (vermifuga), antidiare, dan antivirus. Kulit buah dan bunganya merupakan astringen kuat. Rebusan keduanya bisa menghentikan perdarahan. Kulit kayu dan kulit akar mempunyai bau lemah dan rasa asam. Berkhasiat sebagai peluruh dahak, vermifuga, pencahar, dan astringen usus. Daunnya berkhasiat untuk peluruh haid. Daging buah (daging pembungkus biji) berkhasiat penyejuk, peluruh kentut. Biji sifatnya sejuk, tidak berracun, berkhasiat pereda demam, antitoksik, melumas paru, dan meredakan batuk. Kulit akar berkhasiat peluruh cacing usus. Kulit buah menghambat pertumbuhan basil typhoid. Kulit buah dapat mengendalikan penyebaran infeksi virus polio, virus herpes simpleks, clan virus HIV.
Pemanfaatan :
Komposisi :
Kulit buah (shi liu pi) mengandung alkaloid pelletierene, granatin, betulic acid, ursolic acid, isoquercitrin, elligatanin, resin, triterpenoid, kalsium oksalat, dan pati. Kulit akar dan kulit kayu mengandung sekitar 20% elligatanin dan 0,5--1% senyawa alkaloid, antara lain alkaloid pelletierine (C8H14N0), pseudopelletierine (C9H15N0), metilpelletierine (C8H14NO.CH3), isopelletierine (C8H15N0), dan metilisopellettierine (C9H1,N0). Daun mengandung alkaloid, tanin, kalsium oksalat, lemak, sulfur, peroksidase. Jus buah mengandung asam sitrat, asam malat, glukosa, fruktosa, maltosa, vitamin (A, C), mineral (kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, natrium, dan kalium), dan tanin. Alkaloid pelletierine sangat toksik dan menyebabkan kelumpuhan cacing pita, cacing gelang, dan cacing keremi. Kulit buah dan kulit kayu juga astringen kuat sehingga digunakan untuk pengobatan diare.

Rabu, 02 Maret 2011

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP KESEHATAN

Pemanasan global (Global Warming) memberi dampak pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pada bidang kesehatan. The Washington Post menggambarkannya dalam sebuah diagram yang menarik:
Dampak Pemanasan Global terhadap Kesehatan
Pada gambar di atas, kita dapat melihat bagaimana pemanasan global akan mempengaruhi perubahan lingkungan seperti: perubahan cuaca dan lautan, pergeseran ekosistem dan degradasi lingkungan.


Perubahan cuaca dan lautan dapat berupa peningkatan temperatur secara global (panas) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian, terutama pada orang tua, anak-anak dan penyakit kronis. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita ambil contoh meningkatnya kejadian Demam Berdarah. Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit ini memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas. Hal itulah yang menyebabkan penyakit ini banyak berkembang di daerah perkotaan yang panas dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Namun dengan terjadinya Global Warming, dimana terjadi pemanasan secara global, maka daerah pegunungan pun mulai meningkat suhunya sehingga memberikan ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak.

Degradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.