Rabu, 05 Januari 2011

PRINSIP DASAR BIOLOGI KONSERVASI

Pendahuluan
Bumi ini tidak hanya dihuni oleh manusia, sebagai makhluk yang diberi mandat oleh Sang Pencipta untuk mengelolanya, namun juga masih ada makhluk lain yang juga memiliki hak untuk hidup. Kita sebagai manusia, sepanjang sejarah kehidupannya, selalu mengambil segala manfaat dari bumi ini yang kemudian berkonsekuensi terhadap rusaknya alam dan mempercepat hilangnya keragaman hayati. Sebagai makhluk yang selalu mengambil manfaat dari alam, sesungguhnya manusia berkewajiban mengelola sumber daya alam, habitat, dan segala keragaman hayati yang terdapat di dalamnya.
Dalam ilmu ekologi, ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dengan alam di sekitarnya, terdapat ilmu yang sekarang terus berkembang pesat yaitu biologi konservasi. Tulisan ini akan membahas (menyarikan) beberapa prinsip dan pengertian dasar yang terkandung dalam biologi konservasi sebagaimana dikemukakan oleh Trombulak et al, (2004) dalam tulisannya berjudul Principles of Conservation Biology: Recommended Guidelines for Conservation Literacy from Education Committee of the Society for Conservation Biology.
Tujuan Biologi Konservasi
Biologi Konservasi merupakan bagian dari ilmu biologi dengan latar multi disiplin ilmu yang bertujuan mempelajari permasalahan di bidang keragaman hayati serta bagaimana memecahkan permasalahan tersebut. Tujuan utama biologi konservasi adalah untuk memelihara tiga aspek penting kehidupan bumi : 1) keragaman hayati yang terdapat dalam sistem kehidupan (keragaman hayati); 2) komposisi, struktur, dan fungsi sistem tersebut (keutuhan ekologi); dan 3) kemampuan aspek-aspek tersebut dalam menyesuaikan seiring waktu (kesehatan ekologi) (Callicott et al, 1999). Trombulak et al (2004) mengemukakan bahwa biologi konservasi bertujuan untuk melindungi dan melestarikan :
1. Keragaman biologi: keragaman biologi adalah berbagai organisme pada semua tingkatan organisasi, termasuk gen, spesies, level taksonomi yang lebih tinggi, dan berbagai habitat dan ekosistem. 2. Keutuhan ekologi: keutuhan ekologi adalah tingkat di mana sekumpulan organisme menjaga keutuhan komposisinya, strukturnya, dan fungsi seiring waktu relatif dibandingkan sekumpulan lainnya yang belum terganggu oleh aktivitas manusia. 3. Kesehatan ekologi: kesehatan ekologi adalah ukuran relatif kondisi suatu ekosistem berkaitan dengan kemampuannya menghadapi stress dan menjaga organisasi dan kemampuan mengatur diri sendiri seiring waktu.
Nilai penting keragaman hayati, keutuhan ekologi dan kesehatan ekologi Konservasi alam dipertimbangkan penting atas dasar tiga alasan: 1) nilai intrinsik; 2) nilai instrumental / ekonomis; 3) nilai psikologis (emosional, spiritual). Nilai intrinsik adalah nilai-nilai alami itu sendiri terlepas dari kegunaannya bagi manusia. Nilai instrumental adalah nilai alam berdasarkan kegunaannya bagi manusia, biasanya diukur dalam nilai ekonomis dan jasanya. Sedangkan nilai psikologis adalah nilai alam dalam bentuk kontribusi alam bagi psikologis manusia (esmosional, spiritual, dan estetik).
Konsep dasar pemahaman keragaman hayati, keutuhan dan kesehatan ekologi Pemahaman akan pentingnya komponen alam yang perlu dipertimbangkan untuk dalam upaya konservasi berdasar pemahaman berbagai konsep kunci biologis, termasuk taksonomi, ekologi, genetic, geografi, dan biologi evolusi. Komponen kunci tersebut adalah: hirarki taksonomi, hirarki ekologis, keragaman genetik, konsep spesies, pertumbuhan populasi, distribusi spesies, komunitas dan ekosistem, stokastik (stokastik adalah kemungkinan suatu individu di alam dapat bertahan hidup dari satu periode ke periode lain), dan kepunahan (hilangnya garis evolusi suatu spesies).
Ancaman terhadap keragaman hayati, keutuhan ekologi, dan kesehatan ekologi Alam terus menerus menghadapi berbagai ancaman dari manusia, termasuk akibat dari aktivitias pemanenan, perusakan dan modifikasi habitat, dan introduksi spesies bukan asli. Sejarah ekosistem hingga saat ini telah mencatat terjadinya perubahan dramatis dan menunjukkan perbedaan yang sangat ekstrim antara kondisi masa sekarang dibandingkan masa lalu, Keterancaman alam sangat dipengaruhi oleh seberapa besar perubahan itu sudah terjadi. Konsep yang salah tentang ekologi selama ini telah menuntun pembangunan ke arah terjadinya kehilangan keragaman hayati, degradasi keutuhan ekologi, dan penurunan kesehatan ekologi. Dampak dari kolonisasi oleh manusia memiliki sejarah panjang menjadi penyebab kepunahan dan perubahan besar pada ekosistem. Pola kepunahan spesies yang saat ini terjadi terjadi dalam kecepatan yang sangat tinggi dan belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. 
Perubahan iklim global yang saat ini melanda bumi adalah kenaikan rata-rata suhu bumi akibat efek rumah kaca dan memberikan konsekuensi buruk pada kehidupan di muka bumi. Efek rumah kaca terutama diakibatkan oleh berlebihnya penggunaan bahan bakar fosil, pelepasan karbon dari tumbuhan. Perlindungan dan Restorasi keragaman hayati, keutuhan ekologi, dan kesehatan ekologi 
Konservasi sumber daya alam memerlukan kombinasi berbagai strategi, termasuk perlindungan spesies teracam punah, pencadangan kawasan ekologi, pengendalian kegiatan manusia yang dapat merusak ekosistem, restorasi ekosistem, penangkaran, pengendalian spesies bukan asli, dan pendidikan biologi konservasi.
Perlindungan spesies terancam punah. Spesies dengan resiko kepunahan memerlukan perlindungan dari berbagai eksploitasi dan hilangnya habitat. Perlidungan spesies dilakukan dengan dengan melakukan identifikasi factor-faktor yang mengarahkan pada penurunan ukuran populasi serta penghilangan factor-faktor tersebut. Sistem pencadangan kawasan ekologi. Kawasan yang ditujukan untuk keperluan konservasi perlu dibentuk dan dikelola sehingga dapat melindungi suatu ekosistem secara utuh, termasuk perlindungan terhadap spesies-spesies terancam punah. Kawasan ini merupakan suatu kawasan yang dikelola dengan tujuan utama untuk perlindungan spesies dari kepunahan, serta mempromosikan proses-proses ekologi dan evolusi.
Efektivitas system ini sangat dipengaruhi berbagai aspek, termasuk tekanan terhadap kawasan, aktivitas yang dilakukan di dalam kawasan, konektivitas habitat bagi organism di dalamnya. Kawasan ini perlu pula dipersiapkan untuk menghadapi dampak perubahan iklim global yang dapat mengancam spesies yang dilindungi di dalamnya.
Restorasi ekosistem. Ekosistem yang sudah terdegradasi sehingga menyebabkan terjadinya perubahan fungsi dan perubahan komposisi spesies perlu dilakukan upaya restorasi terhadapnya sehingga dapat mencapai kondisi sedekat mungkin dengan kondisi alaminya. Upaya restorasi dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas penghilangan tekanan terhadap ekosistem, penghilangan spesies exotic, serta restorasi proses-proses ekologi.
Harapan Rainforest (http://harapanrainforest.org) adalah merupakan satu contoh upaya restorasi yang dilakukan di Indonesia. Sebagai proyek restorasi ekosistem pertama di Indonesia dan terbesar di dunia, dengan didukung Burung Indonesia, BirdLife International dan the Royal Society for the Protection of Birds, Harapan Rainforest melakukan upaya pemulihan ekosistem bekas lahan konsesi pembalakan hutan di atas areal hutan hujan dataran rendah seluas sekitar 98.555 ha yang terletak di perbatasan provinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Upaya-upaya yang ditempuh Harapan Rainforest meliputi perlindungan kawasan, pemulihan kawasan dengan kegiatan penanaman, partisipasi dan peningkatan taraf hidup masyarakat setempat, dan penelitian keragaman hayati untuk mendapatkan strategi restorasi terbaik.
Peningkatan populasi alami. Pada spesies yang terancam punah, manfaat dari peningkatan ukuran populasi melalui introduksi hasil penangkaran ke alam, dapat ditempuh. Tindakan perlu diambil untuk memelihara keragaman genetic antara generasi, serta minimalisasi habitatuasi terhadap manusia. Meski demikian perlu dipertimbangkan bahwas opsi ini sangatlah mahal, namun strategi ini bermanfaat untuk mencegah kepunahan secara awal. 
Pengelolaan pemanenan dan spesies non alami. Jumlah individual yang dapat dipanen di alam harus diatur sehingga tidak meningkatkan ancaman kepunhanan spesies tersebut. Aturan yang jelas dan konsisten perlu dijalankan untuk pengaturan pemanenan populasi di alami. Sedangkan pengaturan spesies non alami perlu dijalankan agar tidak meningkatkan ancaman kepunahan populasi spesies yang terpengaruh oleh spesies non alami tersebut. Kebanyakan spesies non alami dapat berkembang biak dan menyebar diluar kendali sehingga mengakibatkan tekanan dan meningkatkan ancaman kepunahan terhadap spesies alami.
Partisipasi politik. Sangatlah penting kuatnya pemahaman dan partisipasi politik untuk memastikan konservasi biologi ke dalam ranah kebijakan public. Dalam hal ini diperlukan pemahaman proses dan struktur bagaiman kebijakan public dibuat, termasuk peraturan, administrative, hubungan dan lobi. Mengenal orang-orang kunci yang memainkan peran penting di berbagai tingkatan. Berbagi pengalaman dengan politisi untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang konservasi biologi serta pemahaman konservasionis mengenai pembuatan kebijakan public.
Pendidikan konservasi. Pendidikan konservasi perlu dijalankan di seluruh lini dan tingkatan komunitas, sehingga menciptakan kondisi di mana masyarakat dapat hidup berdampingan dengan alam. Pendidikan konservasi bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta perilaku yang penting bagi upaya konservasi.
Sumber :
Trombulak, S.C., Omland, K.S., Robinson, J.A., Lusk, J.J., Fleischner, T.I., Brown, G.,
Domroese, M. 2004. Principles of Conservation Biology: Recommended Guidelines for
Conservation Literacy from Education Committee of the Society for Conservation
Biology. Conservation Biology 18(5): 1180-1190.

JARINGAN DASAR HEWAN

PENDAHULUAN
Tubuh hewan terdiri atas jaringan-jaringan atau sekelompok sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama . Jaringan dengan struktur yang khusus memungkinkan mereka mempunyai fungsi yang spesifik. Sebagai contoh, otot-otot jantung yang bercabang menghubungkan sel-jantung yang lainnya. Percabangan tersebut membantu kontraksi sel-sel dalam satu koordinasi (Campbell et al. 1999). Ilmu yang mempelajari jaringan disebut histologi. Jaringan didalam tubuh hewan mempunyai sifat yang khusus dalam melakukan fungsinya, seperti peka dan pengendali (jaringan saraf), gerakan (jaringan otot), penunjang dan pengisi tubuh (jaringan ikat), absorbsi dan sekresi (jaringan epitel), bersifat cair (darah) dan lainnya. Masing-masing jaringan dasar dibedakan lagi menjadi beberapa tipe khusus sesuai dengan fungsinya. Pada saat perkembangan embrio, lapisan kecambah (germ layers) berdiferensiasi (dengan proses yang disebut histogenesis) menjadi empat macam jaringan utama, yaitu jaringan epitel,jaringan pengikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.
1. Jaringan Epithelium
Jaringan epitel terdiri atas satu atau banyak lapis sel, yang menutupi permukaan dalam dan luar suatu organ. Secara embriologi, jaringan ini berasal dari lapisan ektoderm, mesoderm atau endoderm. Di bagian tubuh luar, epitel ini membentuk lapisan pelindung, sedangkan pada bagian dalam tubuh, jaringan epitel terdapat disepanjang sisi organ. Jaringan epitel dibedakan berdasarkan bentuk dan jumlah lapisan sel penyusunnya, yaitu (1) epithelium satu lapis (simple epithelium). Epithel ini terdiri atas sel-sel berbentuk pipih, kubus, dan silindris (batang). Epithelium pipih selapis ditemukan antara lain pada lapisan endotel pembuluh darah. Epithelium bentuk kubus ditemukan pada kelenjar tyroid dan pembuluh darah. Epithel berbentuk silindris (batang) ditemukan pada lambung dan usus. (2) Epithelium berlapis banyak (stratified epithelium) yang dibentuk oleh beberapa lapis sel yang berbentuk pipih, kuboid, atau silindris. Epithelium ini dapat ditemukan pada kulit, kelenjar keringat, dan uretra.
Beberapa lapisan pada epitheliun ini dapat berubah menjadi sel-sel yang memanjang dan disebut epithelium transisional. Epitel transisional ditemukan pada kandung kemih (vesica urinaria). Disamping itu, terdapat epithelium berlapis banyak semu (pseudostratified epithelium) yang ditemukan pada trakea. Epitel pipih berlapis, seperti yang terdapat di pemukaan kulit kita, mampu melakukan mitosis dengan cepat. Sel-sel baru hasil mitosis menggantikan sel-sel permukaan yang mati. Epitel ini juga sebagai pelindung oragan terhadap abrasi oleh makanan yang kasar, seperti yang ditemukan pada esofagus. Sebaliknya, epitelium pipih selapis berukuran tipis dan lemah, yang cocok untuk pertukaran material dengan cara difusi. Epitel ini ditemukan pada dinding kapiler darah dan alveoli paru-paru (Campbell et al. 1999).
2. Jaringan Ikat
Jaringan ikat berfungsi untuk menunjang tubuh, dibentuk oleh sel-sel dalam jumlah sedikit. Jaringan ikat terdiri atas populasi sel yang tersebar di dalam matrik ekstraseluler. Secara embriologi, jaringan ikat berasal dari lapisan mesoderm. Se-sel tersebut mensistesis matriks, dengan anyaman serat yang tertanam di dalamnya (Campbell et al. 1999). Jaringan ikat ini dapat dibedakan menjadi (1) jaringan ikat longgar dan (2) jaringan ikat padat, (3) jaringan lemak, (4) jaringan darah, (5) kartilago, dan (6) tulang. Diantara enam tipe jaringan ikat, jaringan ikat longgar paling banyak ditemukan di dalam tubuh kita. Di dalam matriks jaringan ikat longgar ini hanya sedikit ditemukan serabut. Serabut penyusun jaringan ikat ini berupa kolagen. Fungsi utama jaringan ikat longgar adalah pengikat dan pengepak material, dan sebagai tumbuhan bagi jaringan dan organ lainnya. Jaringan ikat longgar di kulit membatasi dengan otot (Campbell et al. 1999). Jaringan ikat padat/fibrous mempunyai matriks yang banyak mengandung serabut kolagen. Jaringan ini membentuk tendon sebagai tempat perlekatan otot dengan tulang, dan ligamen sebagai tempat persendian tulang dengan tulang (Campbell et al.1999).
Jaringan lemak mengandung sel-sel lemak. Jaringan ini digunakan sebagai bantalan, dan melindungi tubuh, serta sebagai penyimpan energi. Setiap sel lemak, mengandung tetes lemak yang besar. Didalam jaringan lemak, matriks relatif sedikt (Campbell et al.1999).
Darah adalah jaringan ikat yang tersusun sebagian besar cairan. Matriks darah disebut plasma, yang tersusun oleh air, garam mineral, dan protein terlarut. Sel darah merah dan putih tersuspensi di dalam plasma. Darah ini berfungsi utama dalam transpor substansi dari satu bagian tubuh ke bagian lain. Disamping itu, darah juga berperan dalam sistem kekebalan (Campbell et al. 1999).
Kartilago adalah jaringan ikat yang membentuk material rangka yang fleksibel dan kuat, terdiri atas serabut kolgen yang tertanam di dalam matriks. Kartilago banyak ditemukan pada bagian ujung tulang keras, hidung, telinga, dan vertebrae (ruas-ruas tulang belakang) (Campbell et al. 1999). Tulang keras (bone) merupakan jaringan ikat yang kaku, keras, dengan serabut kolagen yang tertanam di dalam matriks (Campbell et al. 1999). Didalam matriks sel tulang terdapat kalsium yang dapat bergerak dan diserap oleh darah. Hal ini merupakan peran penting tulang dalam proses homeostasis kadar kalsium dalam darah. Sel tulang (osteosit) terdapat di dalam ruang yang disebut lakuna. Lakuna ini mengandung satu atau beberapa osteosit. Penjuluran yang keluar dari osteosit disebut kanalikuli.
Kanalikuli dari satu sel berhubungan dengan sel lainnya, sebagai bentuk komunikasi sel. Satu osteon terdiri dari sejumlah lamela konsentris yang mengelilingi kanal sentral (kanalis Haversi). Pada individu yang masih hidup, kanal sentral ini berisi pembuluh darah.
3. Jaringan Otot
Secara embriologi, jaringan otot berasal dari lapisan mesoderm. Jaringan ini terdiri atas sel-sel yang memanjang atau berbentuk serabut yang dapat berkontraksi karena adanya molekul miofibril. Pada vertebrata, secara tipikal mempunyai tiga jenis otot, yaitu otot skelet (rangka), otot jantung (cardiac), dan otot polos (Campbell et al. 1999).
Otot skelet berstruktur bergaris melintang, berfungsi untuk menggerakkan rangka. Otot ini bersifat sadar (voluntary), karena mampu diatur oleh kemauan kita. Serabut ototnya mempunyai banyak nukleus yang terletak ditepi. Otot rangka mempunyai garis melintang yang gelap (pita anisotrop) dan garis terang (pita isotrop). Otot jantung merupakan otot bergaris melintang dan bercabang. Sifat otot ini tidak sadar (involuntary), karena kontraksinya tidak bisa diatur oleh kemauan kita. Nukleus terletak ditengah sel. Pada bagian ujung sel, terdapat sambungan rapat, yang membentuk struktur pembawa sinyal untuk kontraksi dari satu sel ke sel lainnya selama denyut jantung (Campbell et al. 1999).
Otot polos berbentuk seperti spindle. Kontraksi otot polos lebih lambat dibandingkan otot skelet, namun mereka mampu kontraksi dalam waktu lebih lama. Otot polos bersifat tidak sadar (involuntary), seperti otot jantung. Otot polos ditemukan pada banyak organ tubuh, diantaranya terdapat pada dinding pembuluh darah dan melapisi organ dalam seperti usus dan uterus. Membran plasmanya disebut sarkolema dan sitoplasmanya sering disebut sarkoplasma. Sitoplasma yang mengandung miofibril dengan ketebalan mencapai 1 mikron.
4. Jaringan Saraf
Jaringan saraf berperan dalam penerimaan rangsang dan penyampaian rangsang. Secara embriologi, jaringan ini berasal dari lapisan ektoderm. Jaringan ini terdapat padasistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan pada sistim saraf tepi. Ada dua macam sel, yaitu sel saraf (neuron) dan sel pendukung (sel glia). Neuron mengandung badan sel, nukleus, dan penjuluran atau serabut. Satu tipe penjuluran tersebut adalah dendrit, yang berperan dalam menerima sinyal dari sel lain dan meneruskannya ke badan sel. Tipe penjuluran sel saraf yang lain, disebut akson (neurit), yang berperan dalam meneruskan sinyal dari badan sel ke neuron lainnya. Beberapa akson berukuran sangat panjang, yaitu memanjang dari otak sampai ke bagian bawah abdomen (panjang 1/2 meter atau lebih). Transmisi sinyal dari neuron ke neuron lainnya umumnya dilakukan secara kimia. Selain neuron, ditemukan juga sel pendukung, seperti sel glia. Sel glia merupakan sel yang menunjang dan melindungi neuron. Sel-sel pendukung umumnya berperan dalam melindungi dan membungkus akson dan dendrit,sehingga membantu mempercepat transmisi sinyal (Campbell et al. 1999).

BEBERAPA FUNGSI FISIOLOGIS PENTING TUBUH HEWAN SIRKULASI PADA HEWAN

Sistem transpor secara fungsional menghubungkan organ-organ pertukaran dengan sel-sel tubuh
Difusi tidak mencukupi untuk pengangkutan zat-zat kimia dengan jarak makroskopis pada hewan, misal memindahkan glukosa dari saluran pencernaan dan oksigen dari paru-paru ke otak seekor hewan mamalia. Waktu yang dibutuhkan oleh suatu zat untuk berdifusi dari satu tempat ke tempat lain sebanding dengan kuadrat jarak yang akan ditempuh oleh zat tersebut. Sistem sirkulasi menjamin tidak ada zat yang harus berdifusi sangat jauh untuk memasuki atau meninggalkan suatu sel. Dengan mengangkut cairan ke seluruh tubuh, secara fungsional sistem itu menghubungkan lingkungan berair sel-sel tubuh dengan organ-organ yang mempertukarkan gas, menyerap nutrien, dan membuang zat-zat sisa.
Dalam paru-paru mamalia, oksigen dari udara yang dihirup berdifusi melewati epitelium tipis dan masuk ke dalam darah. Sistem sirkulasi membawa darah yang kaya oksigen ke seluruh bagian tubuh. Ketika darah mengalir melalui jaringan di dalam pembuluh mikroskopis (kapiler), zat-zat kimia akan diangkut antara darah dan cairan interstisial yang secara langsung menggenangi sel-sel itu.
Transpor internal dan pertukaran gas secara fungsional saling berkaitan sehingga fokus bagian ini baik pada sistem sirkulasi maupun sistem respirasi. Sebagian besar hewan invertebrata mempunyai rongga gastrovaskuler atau sistem sirkulasi untuk transpor internal
Rongga Gastrovaskuler
Bangun tubuh hidra dan organisme cnidaria memiliki sistem yang tidak memerlukan transpor internal. Dinding tubuh tersusun atas dua sel tebalnya membungkus rongga gastrovaskuler tengah, yang mempunyai fungsi ganda untuk pencernaan dan pengiriman zat-zat ke seluruh tubuh. Cairan di dalam rongga terhubung dengan air yang berada di luar melalui sebuah pembukaan tunggal, sehingga lapisan dalam dan lapisan luar jaringan digenangi oleh cairan. Cabang-cabang tipis rongga gastrovaskuler memanjang ke dalam tentakel hidra, dan beberapa hewan cnidaria bahkan mempunyai rongga gastrovaskuler yang lebih rumit. Karena pencernaan dimulai dalam rongga tersebut, maka hanya sel-sel lapisan dalam yang memiliki akses langsung dengan nutrien, tetapi nutrien hanya menempuh jarak dekat untuk berdifusi ke sel-sel lapisan luar.
Sistem Sirkulasi Terbuka dan Tertutup
Rongga gastrovaskuler tidak memadai untuk transpor internal di dalam tubuh hewan yang mempunyai banyak lapisan sel, khususnya jika hewan tersebut hidup di luar air. Pada serangga, artropoda, dan sebagian besar moluska, darah menggenangi organ internal secara langsung. Pengaturan ini disebut sistem sirkulasi terbuka (open circulatory system). Tidak ada perbedaan antara darah dan cairan interstitial, dan cairan tubuh umum sebenarnya jauh lebih tepat disebut hemolimfa.
Satu atau lebih jantung memompakan hemolimfa ke dalam sistem sinus yang saling berhubungan, yang merupakan ruangan yang mengelilingi organ tersebut. Pertukaran kimiawi terjadi antara hemolimfa dan sel-sel tubuh. Pada belalang dan artropoda lain, jantung merupakan tabung panjang yang berlokasi di bagian dorsal. Ketika jantung berkontraksi, jantung akan memompakan hemolimfa keluar melalui pembuluh dan masuk ke dalam sinus. Ketika jantung mengalami relaksasi, jantung akan menyedot hemolimfa masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui pori-pori yang disebut ostia. Pergerakan tubuh yang menekan dan memeras sinus membantu mensirkulasikan hemolimfa.
Dalam sistem sirkulasi tertutup (closed circuatory system), darah hanya terdapat secara terbatas dalam pembuluh dan terpisahkan dari cairan interstisial. Satu atau lebih jantung memompa drah ke dalam pembuluh yang lebih kecil mengalir melalui organorgan. Cacing tanah, cumi-cumi, gurita, dan vertebrata memiliki sistem sirkulasi tertutup.
PERTUKARAN GAS PADA HEWAN
Pertukaran gas menyediakan oksigen bagi respirasi seluler dan membuang karbon dioksida Pertukaran gas (gas exchange) disebut juga respirasi yaitu pengambilan oksigen molekuler (O2) dari lingkungan dan pembuangan karbon dioksida (CO2) ke lingkungan. Hewan memerlukan suplai O2 secara terus menerus untuk respirasi seluler sehingga dapat mengubah molekul bahan bakar yang diperoleh dari makanan menjadi kerja. Hewan juga harus membuang CO2 produk buangan respirasi seluler. Pertukaran gas melibatkan sistem respirasi dan sistem sirkulasi. Reservoir utama oksigen molekuler di Bumi adalah atmosfer, yang mengandung sekitar 21% O2. Lautan, danau, dan badan air lainnya mengandung oksigen dalam bentuk O2 terlarut. Sumber oksigen yang disebut medium respirasi (respiratory medium) adalah udara bagi hewan darat (terestrial) dan air untuk hewan air (akuatik). Bagian hewan tempat oksigen dari lingkungan berdifusi ke dalam sel hidup dan karbon dioksida berdifusi ke luar disebut permukaan respirasi (respiratory surface).
Beberapa hewan menggunakan seluruh kulit luarnya sebagai organ respirasi. Seekor cacing tanah mempunyai kulit yang lembab dan mempertukarkan gas melalui difusi melewati permukaan tubuhnya. Persis di bawah kulit terdapat anyaman kapiler yang sangat padat. Karena permukaan respirasi harus lembab, cacing dan banyak hewan yang bernafas dengan kulit termasuk beberapa amfibia harus hidup dalam air atau tempat yang lembab.
Insang, trakea dan paru-paru adalah tiga organ respirasi yang paling umum. Insang merupakan adaptasi respirasi pada sebagian besar hewan air Insang (gill) adalah bentuk pelipatan ke arah luar pada permukaan tubuh yang dikhususkan untuk pertukaran gas. Pada invertebrata, seperti bintang laut, insang berbentuk sederhana dan tersebar di banyak tempat dalam tubuh. 
Cacing bersegmen mempunyai insang mirip penutup yang menjulur dan memanjang dari masingmasing segmen tubuh atau insang panjang berbulu yang mengumpul pada kepala atau ekor. Insang pada remis, crayfish, dan banyak hewan lain hanya terbatas pada bagian tubuh tertentu Total luas permukaan insang seringkali jauh lebih besar dibandingkan dengan luas permukaan bagian tubuh lainnya.
Insang harus sangat efisien untuk mendapatkan oksigen yang cukup dari air. Salah satu proses yang membantu adalah ventilasi yaitu peningkatan aliran medium respirasi di atas permukaan respirasi. Crayfish dan udang mempunyai anggota tubuh mirip dayung yang berfungsi dalam ventilasi dengan cara mendorong arus aliran air di atas insang. Insang ikan bertulang sejati diventilasi secara kontinu oleh aliran air yang memasuki mulut, lalu masuk melalui celah dalam faring, mengalir di atas insang, dan kemudian keluar tubuh.
Ventilasi membawa aliran oksigen segar dan membuang karbondioksida yang dikeluarkan oleh insang. Pengaturan posisi kapiler alam insang juga meningkatkan pertukaran gas. Darah mengalir dengan arah yang berlawanan dengan aliran air yang mengalir diatas insang. Pola ini memungkinkan oksigen untuk diangkut ke dalam darah dengan proses yang sangat efisien yang disebut pertukaran lawan arus (counter current exchange).

Minggu, 02 Januari 2011

KULAP, TAKS. TUMB. RENDAH BIO UMA, 18-19 DES 10 AEK NAULI PARAPAT

Persiapan Tracking
Pengamatan Jamur

Pengamatan tumbuhan Paku

Istirahat Tracking

Melanjutkan Perjalanan Menuju Panorama

Kawasan lumut yang sudah mengering

Istirahat di Puncak
Panorama

waktunya bersih-bersih
MEMBUAT HERBARIUM
Bongkar Koleksi

Proses Pembuatan Herbarium










BEBERAPA FOTO KOLEKSI TUMB. DI LAPANGAN
Marchantia sp.

Amanita sp.

Selaginella sp.

Cladonia sp.

WIJAYA KUSUMA

Epiphllum anguliger
Wijaya kusuma (Epiphllum anguliger) termasuk jenis kaktus, devisi anthophita bangsa opuntiales dan kelas dicotiledoneae. Jenis kaktus teradapt seitar 1.500 jenis (Famili). Tanaman kaktus dapat hidup subur di daeah sedang sampai tropis. Demikian juga tanaman wijaya kusuma. Bunga wijaya kusuma hanya merekah beberapa saat saja, dan tidak semua tanaman wijaya kusuma dapat berbunga dengan mudah, tergantung dari iklim, kesuburan tanah, dan cara pemeliharaan. Pada umumnya tanaman jenis kaktus sukar untuk ditentukan morfologinya, tetapi wijaya kusuma dapat dilihat dengan jelas mana bagian daun dan mana bagian batangnya, setelah tanaman ini berumur tua. Batang pohon wijaya kusuma sebenarnya terbentuk dai helaian daun yang mengeras dan mengecil. Helaian daunya pipih, berwarna hijau dengan permukaan daun halus tidak berduri, lain halnya dengan kaktus-kaktus pada umumnya. Pada setiap tepian daun wijaya kusuma terdapat lekukan-lekukan yang ditumbuhi tunas daun atau bunga. Wijaya kusuma dapat tumbuh baik ditempat yang tidak terlalu panas.

Buah



Manfaat: Tumbuhan Wijaya kusuma mempunyai daya ampuh untuk meredam rasa sakit, dan mampu menetralisir pembekuan darah. Wijaya kusuma juga memeliki daya yang dapat mempercepat masaknya luka abses. Komposisi kandungan kimia yang yang terdapat pada tumbuhan ini belum ada penelitian.